Bahaya Asap Rokok Terhadap Anak

Bahaya Asap Rokok Terhadap Anak

Menurut World Health Organization (WHO) bahwa dari sebatang rokok yang dibakar akan mengeluarkan banyak zat beracun. Asap rokok mengancam kesehatan si perokok maupun orang yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, dihimbau kepada para perokok untuk tidak merokok di dalam rumah atau di ruangan ber-AC, sebab dampak buruknya antara lain menimbulkan alergi yang menimpa orang lain (perokok pasif, termasuk anak-anak).

Alergi (bahasa Yunani: Allon argon) berarti reaksi yang menyimpang dari normal terhadap berbagai rangsangan dari luar tubuh/alergen. Kalau alergen itu terjadi pada orang normal, biasanya tidak menimbulkan penyakit. Alergi merupakan gangguan yang mudah dialami oleh anak-anak. Menurut dr. Isman Jafar, SpA, dari RS Hermina Kemayoran bahwa selain asap rokok sebagai pemicu timbulnya alergi pada anak , faktor lainnya adalah genetik, makanan, lingkungan, dan obat. Bila kedua orangtua memiliki penyakit alergi yang sama, maka 72% kemungkinannya si anak mengalami penyakit serupa, tetapi faktor dari ibu lebih berpengaruh. Namun, bila kedua orangtua tidak memiliki penyakit yang sudah dikenal sejak tahun 1570 ini, maka kecil kemungkinannya si anak mengalami alergi.

Jika salah satu saudara kandung mengalami alergi, maka 30 persen kemungkinannya si anak mengalami gangguan yang sama. Makanan Penyebab Alergi Golongan makanan yang sering menimbulkan alergi adalah susu, telur, kacang tanah, dan sea food. Untuk itulah, makanan berupa es krim, kue-kue yang memakai bahan dasar telur, kepiting, udang kecil, dan cokelat, dihindari hingga anak berusia tiga tahun. Pada usia ini, si anak sudah toleran terhadap makanan tersebut. Begitu juga bahan aditif pada makanan alami seperti bumbu dapur, serta makanan dari bahan sintesis yang mengandung pengawet, pewarna, dan bumbu penyedap rasa, berpotensi menimbulkan reaksi alergi.

Faktor lingkungan (alergen) yang menjadi pemicu timbulnya alergi bisa berasal dari serbuk sari rumput, bunga dan tanaman lainnya, lumut dan tempat lembab, debu rumah, binatang (bulu, urine, air liur), kecoa, karpet, furniture, boneka atau mainan anak yang memakai bulu binatang, kasur kapuk, bantal guling yang telah usang, dan obat. Sedangkan faktor lingkungan (irritant/pollutant) bersumber dari udara dingin dan lembab, perubahan ekstrim suhu udara, bau menyengat, asap rokok, asap obat nyamuk, asap knalpot kendaraan, polusi pabrik, dan terlalu capek.

Perwujudan Alergi Tanda-tanda penyakit alergi bisa dilihat pada reaksi: yang dirasakan seluruh badan, kulit, pernafasan, anafilaksis, saluran pencernaan, mata, telinga, dan sistem saraf. Reaksi sistemis berupa gatal-gatal di seluruh badan, rasa lemah, rasa haus dan mulut selalu kering, serta tekanan darah turun. Untuk reaksi pada kulit dapat dirasakan dengan menebalnya bibir atau kelopak mata, kulit kemerahan, eccema, serta rasa gatal. Pada saluran nafas, gangguan alergi yang dapat dilihat adalah pilek beringus, bersin, hidung gatal, tenggorokan gatal, suara serak, batuk kronik, dan asma. Kalau melihat reaksi saluran cerna dapat berupa sakit perut, cramp, mual dan muntah, kembung, diare, dan buang air besar bercampur darah. Reaksi pada mata dapat berupa mata merah, gatal terasa sakit, air mata keluar terus.

Kalau reaksi pada telinga dapat berupa telinga terasa sakit dan meradang. Sedangkan reaksi pada saraf dapat dirasakan antara lain sakit kepala, rasa lelah, tidak semangat, gampang marah, migren, sakit pada persendian, dan seluruh badan terasa sakit. Untuk mengurangi faktor risiko alergi sewaktu masih dalam kandungan dan saat bayi berusia di bawah satu tahun, maka hindari kontak dengan alergen dan irritant. Saat bayi lahir, gunakan ASI hingga bayi berusia enam bulan tanpa memberikan makanan padat. Bila ibu tidak menghasilkan ASI, maka berikan susu HA. Hindari juga kontak langsung dengan makanan yang menimbulkan alergi.

Diet juga dapat mengurangi faktor risiko terkena alergi pada anak. Contohnya, perbanyak intake makan yang mengandung antioksidan, asam lemak omega 3 pre dan probiotik, jangan terlalu cepat memberikan makanan alergenik yang tinggi, berikan ASI eksklusif hingga anak berusia enam bulan, ibu diet makanan alergenik tinggi (makanan sea food, kacang tanah). Makanan yang jarang menimbulkan alergi dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak antara lain daging ayam, daging sapi, tomat, dan jeruk.

Penyakit alergi dapat menyerang semua organ tubuh, namun tidak semua anak yang memiliki bakat alergi akan menjadi sakit. Pencegahan adalah pengobatan terbaik. –Sumber : Media Komunikasi Hermina edisi 11-