Efek Gadget pada Kesehatan Anak

Efek Gadget pada Kesehatan Anak

Gadget atau gawai adalah suatu piranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Contohnya komputer merupakan alat elektronik yang memiliki pembaruan gawainya yaitu laptop/notebook, telepon rumah merupakan alat elektronik yang memiliki pembaruan berbentuk gawainya telepon seluler.

Smartphone atau ponsel cerdas adalah sebuah gawai jenis telepon seluler yang mempunyai kapasitas melebihi fungsinya untuk telepon dan pengiriman teks, yaitu juga mempunyai fitur untuk menampilkan foto dan gambar, memutar video atau film, mengirim surat elektronik email, dan menjelajah internet. Beberapa smartphone juga dilengkapi berbagai fitur aplikasi yang disediakan oleh pihak ketiga, sehingga berpotensi dapat dipergunakan oleh orang tua sebagai salah satu sarana atau alat permainan dalam mengasuh dan mengasah kemampuan anak.

Efek gadget pada pertumbuhan anak

1. Obesitas

Penggunaan gawai secara berlebihan juga ternyata mempunyai pengaruh terhadap resiko obesitas dalam hal laju peningkatan berat badan dan nilai BMI. Pembatasan waktu penggunaan gawai selama 2 jam ternyata tidak efektif dalam menurunkan resiko obesitas, karena ternyata masih didapatkan peningkatan nilai BMI untuk setiap jam per minggu dari penggunaan gawai. Hal tersebut diperparah dengan adanya paparan iklan makanan dan kebiasaan aktivitas anak makan saat penggunaan gawai.

2. Penurunan durasi tidur per malam

Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh konten materi dalam gawai tersebut dan supresi kadar melatonin endogen oleh emisi cahaya biru yang dikeluarkan oleh layar gawai.

3. Efek pada kesehatan mata

Anak yang sering terpapar smartphone lebih rentan terkena masalah kesehatan mata yang disebabkan menatap layar ponsel terlalu lama. Dari suatu penelitian, anak menjadi lebih mudah terkena mata kering, karena pada saat menatap smartphone atau gadget kedipan mata otomatis berkurang, akibatnya lapisan air mata menjadi lebih mudah menguap dan membuat mata kering. Dampak negatif mata kering diantaranya penglihatan menjadi kurang baik, cenderung kabur, dan mata terasa gatal. Selain itu layar smartphone yang kecil mengharuskan mata melihat dalam jarak yang lebih dekat. Sehingga membuat mata menjadi lelah.


Efek gadget pada perkembangan anak

1. Bayi dan anak di bawah 2 tahun

Perkembangan kemampuan dasar pada periode anak usia di bawah 2 tahun membutuhkan nutrisi yang optimal dan stimulasi dini dalam bentuk eksplorasi dan interaksi sosial dua arah yang bersifat ‘memberi dan menerima’ secara langsung dengan orangtua atau pengasuh sehari-hari.

Kemampuan otak bayi dan anak berusia di bawah 2 tahun masih berada dalam kondisi imatur dalam hal untuk dapat mengidentifikasi atau mengenali berbagai gambar atau simbol, penyimpanan memori, dan kemampuan atensi. Sehingga otak masih mempunyai kemampuan terbatas dalam hal mentransfer sebuah pengetahuan baru dalam bentuk tiga dimensi. Keterbatasan ini yang menyebabkan bayi dan anak berusia di bawah 2 tahun masih belum dapat menyerap dengan baik berbagai informasi baru dari lingkungannya bila tidak dilakukan secara interaksi langsung dengan orangtua atau pengasuhnya.

Sebuah studi membuktikan bahwa proses belajar dengan menggunakan media gawai yang dimulai pada anak usia 15 bulan akan mampu diserap oleh seorang anak bila dilakukan secara berulang-ulang melalui interaksi dengan orangtua. Hal ini juga terbukti dari studi mengenai penggunaan gawai dengan layar sentuh (touch screen) dan yang mempunyai fitur live video-chatting (misalnya: FaceTime, Skype) untuk sarana interaksi dengan anak usia dibawah 2 tahun. Bila kegiatan live video-chatting tersebut dilakukan secara interaktif pada anak usia dibawah 2 tahun, ternyata dapat mengembangkan kemampuan anak untuk dapat mengerti terhadap apa yang mereka lihat, dan meningkatkan kemampuan belajar kata-kata baru. Akan tetapi, mereka masih belum dapat mentransfer pengertian kata-kata baru tersebut dalam bentuk 3 dimensi. Selain itu, penggunaan gawai berlayar sentuh seringkali digunakan orang tua sebagai sarana identifikasi kemampuan anak dalam hal akurasi respons terhadap apa yang sudah diajarkan sebelumnya.

Berdasarkan bukti-bukti tersebut, para ahli merekomendasikan bahwa penggunaan gawai pada anak usia di bawah 2 tahun belum terbukti signifikan dapat membantu meningkatkan proses belajar karena ada keterbatasan kemampuan otak anak dalam mentransfer pengetahuan baru dalam bentuk 3 dimensi. Sehingga, diharapkan orangtua tetap mengutamakan cara interaksi sosial secara langsung dengan anak, daripada menggunakan gawai sebagai sarana pengasuhan pada anak di bawah 2 tahun.

2. Anak usia Pra-Sekolah (3-6 tahun)

Pada periode ini diperlukan pengembangan anak dalam berbagai fungsi eksekutif untuk berpikir tingkat tinggi untuk keberhasilan sekolah nantinya, seperti kemampuan dalam hal kreatifitas, ketekunan, regulasi emosi, kontrol reaksi, dan fleksibilitas daya pikir. Pembentukan berbagai kemampuan tersebut hendaknya dilakukan melalui sarana interaksi antara orangtua dan anak yang bersifat responsif. Namun kenyataanya, berbagai program aplikasi yang terdapat pada gawai yang dikategorikan sebagai ‘program bernilai edukatif’ untuk anak pra-sekolah ternyata tidak dikembangkan berbasis efikasi bukti studi yang baik, karena sebagian besar program tersebut tidak melibatkan ahli perkembangan anak atau para pendidik anak usia dini, dan juga tidak dirancang sebagai program interaktif antara orang tua dan anak.

Studi tentang penggunaan gawai sebagai sarana membaca buku untuk anak, atau lebih dikenal sebagai eBook, membuktikan bahwa efek visual yang ditimbulkan oleh layar tayang berpotensi menurunkan tingkat pemahaman terhadap materi yang dibaca dan juga menurunkan daya interaksi dialog antara orangtua dan anak. Sehingga direkomendasikan bahwa penggunaan eBook dalam sebuah gawai harus tetap mengutamakan interaksi orangtua dan anak seperti ketika orangtua membacakan buku untuk anak dalam versi buku cetak.

Penggunaan gawai dalam waktu berlebihan ternyata mempunyai dampak sekunder terhadap penurunan interaksi antara orangtua dan anak. Lama durasi penggunaan gawai pada anak berhubungan dengan berbagai gangguan perkembangan seperti gangguan bicara dan bahasa, gangguan sosial-emosi, dan gangguan kognitif. Selain itu, usia pertama anak dikenalkan gawai dan konten materi di dalam gawai tersebut juga terbukti menjadi faktor independen yang dapat memperburuk fungsi eksekutif pada anak usia pra-sekolah.

Selain itu studi menunjukkan durasi penggunaan gawai berkorelasi dengan perilaku anak. Semakin lama durasi penggunaan gawai, maka anak semakin beresiko memiliki temperamen yang sulit, problem regulasi, dan pengendalian diri.

Studi tentang pengaruh konten materi di dalam sebuah media gawai terhadap perkembangan anak membuktikan bahwa bila dilakukan perubahan materi yang berisi kekerasan ke materi yang lebih bersifat edukatif ternyata akan dapat menghasilkan perbaikan yang signifikan terhadap perilaku anak.

Pengaruh konten materi dalam sebuah gawai terhadap perkembangan anak dapat dimodifikasi dengan kualitas pengasuhan orangtua. Bila seorang anak sering terpapar konten materi yang tidak mendidik ditambah dengan kualitas pengasuhan yang inkonsisten, maka akan berdampak negatif terhadap fungsi eksekutif anak. Sebaliknya bila kualitas pengasuhan baik ditambah dengan konten materi yang mendidik maka akan menghasilkan manfaat positif dari gawai. Pengasuhan dengan pola selalu memberikan gawai kepada anak dengan tujuan supaya anak bisa lebih diam dan tidak aktif, juga akan berdampak terjadinya risiko gangguan sosial-emosi pada anak.

Faktor orangtua sendiri juga memegang peranan sangat penting dalam membentuk kebiasaan anak untuk menggunakan gawai. Orangtua pengguna gawai akan berisiko mengalami: 1. Tidak mempunyai waktu dan kualitas yang cukup untuk berinteraksi dan bermain dengan anak, 2. berkurangnya interaksi verbal dan non-verbal yang dapat berakibat lebih sering mengalami periode konflik dengan anak, dan 3. Mempunyai anak dengan gangguan perilaku.

3. Anak usia Sekolah dan Remaja

Dampak positif maraknya penggunaan alat komunikasi online antara lain berkembangnya kemungkinan untuk bersosialisasi, komunikasi, dan pertemanan antar remaja yang tidak saja lintas propinsi namun juga lintas negara. Selain itu, membuka kesempatan untuk proses belajar, akses berita, informasi kesehatan dan lainnya. Dampak negatifnya antara lain akses yang tanpa batas terhadap tayangan yang berbau kekerasan, pornografi, perilaku konsumtif untuk membeli benda yang diiklankan di internet, sexting dan salah satu tantangan baru yaitu cyberbullying. Anak dan remaja cenderung untuk meniru dan mencoba hal yang dianggapnya baru dan menantang.

Konten materi pada sebuah gawai khususnya internet berpengaruh terhadap peningkatan kejadian penggunaan rokok, alkohol dan pergaulan bebas termasuk  seks bebas. Keadaan ini menyebabkan munculnya masalah tidak hanya fisik, namun mental, emosional, perilaku dan masalah sosial pada remaja. Perilaku dapat menjadi agresif, violent behavior, bullying, juga menyebabkan ketakutan, depresi, gangguan tidur, mimpi buruk dan bahkan bunuh diri. Data di Indonesia menunjukkan persentase yang relatif tinggi anak-anak yang menjadi korban cyberbullying. Sebanyak 55% cyberbullying terjadi pada saat di lingkungan sekolah dan 45% di luar lingkungan sekolah.


Rekomendasi penggunaan gawai untuk anak

Rekomendasi penggunaan gawai untuk anak telah diberikan oleh AAP yaitu sebagai berikut:

  1. Hindari penggunaan gawai pada anak berusia kurang dari 18-24 bulan, kecuali dalam bentuk video-chating. Bila ingin mengenalkan gawai untuk anak berusia 18-24 bulan, pilihlah hanya program yang berkualitas untuk anak, gunakanlah secara interaksi dengan anak, dan jangan membiarkan anak mengunakannya sendirian.

  2. Untuk anak berusia 2-5 tahun, batasi penggunaan gawai tidak lebih dari 1 jam per hari, dan hanya memberikan konten materi yang berkualitas, dilakukan dengan cara interaksi bersama orangtua untuk anak mengerti terhadap apa yang mereka lihat dan membantu untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hindarkan anak dari konten materi yang terlalu banyak distraksi, dan konten materi kekerasan.

  3. Matikan semua TV dan perangkat media bila sedang tidak digunakan.

  4. Jangan menggunakan gawai dengan tujuan untuk menenangkan perilaku anak

  5. Berupaya agar kamar tidur, waktu saat makan, dan waktu bermain dengan anak, semuanya terbebas dari penggunaan gawai.

  6. Awasi komputer dan gadget yang digunakan anak. Aktivitas online anak akan lebih mudah diawasi apabila penggunaan komputer dan gadget dilakukan di tengah rumah, misalnya di ruang keluarga atau ruang makan. Hindarkan anak menyendiri dan bermain komputer atau gadget di kamar tidur mereka.

  7. Telusuri aktivitas anak di dunia maya dengan cara memonitor situs web yang pernah dikunjungi, dan pastikan anak tidak mengunjungi situs yang tidak sesuai usia. Saat ini telah terdapat program piranti lunak penyaring (web-filtering) yang dapat membantu orangtua dalam melakukan scan ataupun memblok alamat website yang mengandung materi seksual, kekerasan, maupun fitur lainnya yang tidak sesuai untuk anak, misalnya ruang chatting tanpa pengawasan dan iklan untuk situs web tertentu.

  8. Komunikasi yang terbuka dengan cara mendiskusikan keamanan internet dan perilaku di dunia maya yang bertanggung jawab dengan anak . Beritahu dengan jelas jenis situs mana yang dapat dikunjungi oleh anak dapat dan mana yang harus dihindari. Ajarkan anak apa yang harus dilakukan apabila mendapat ancaman atau pelecehan melalui surat elektronik (surel) atau pesan elektronik lainnya: jangan merespons pesan tersebut, laporkan atau blok pengirim pesan, catat nama atau alamat surel pengirim pesan, segera keluar dari internet, dan beritahu orangtua atau orang dewasa lain yang dapat dipercaya, misalnya guru.

  9. Orangtua harus menambah pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan gawai. Sulit untuk menetapkan peraturan bila orangtua tidak mengerti apa itu blog atau bagaimana cara menggunakan Instagram, Twitter atau Facebook. Luangkan waktu untuk melihat situs yang pernah dikunjungi anak.

Hal-hal yang dapat diajarkan pada anak mengenai keamanan internet

  1. Jangan pernah memberikan informasi pribadi sebelum mendapat izin dari orangtua. Hal ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, usia, ras, nama atau lokasi sekolah, atau nama teman. Beberapa situs memerlukan identitas orangtua untuk pengguna di bawah umur.

  2. Jangan berbagi kata sandi (password) dengan orang lain, bahkan dengan teman.

  3. Jangan pernah bertemu dengan teman yang dikenal melalui internet tanpa sepengetahuan orangtua. Akan lebih baik apabila orangtua menemani anak dan bertemu di tempat umum.

  4. Jangan memberikan respons terhadap pesan yang memberikan rasa tidak nyaman atau menyakiti perasaan, dan beri tahu orangtua atau orang dewasa lain yang dapat dipercaya.



dr. Vaya Dasitania, Sp.A

Dokter Spesialis Anak RS Hermina Arcamanik

Hermina Hospitals :
Mobile Apps : PT Medikaloka Hermina Tbk (Tersedia untuk iOS dan Android)
www.herminahospitals.com